Rainbow (虹, Niji)
Vacuum Hollow (真空ホロウ, Shinkū Horō)
Wakatten dayo
Hoka no dare de monakute
Kono sora ippai no niji wo kakete miseru yo
Itsu ma de tatte mo todo ka nai yo
Ato nankai mo kuri kaesu nichijou
Oika keteru no wa itsu ka jibun de egai ta mirai
Mata dare ka no sei ni shite ta
Wakatten dayo
Kono mama ja dame na koto
Kono me de midashi ta ‘‘ashita no jibun’’ wa mou shinjite iin desu ka?
Wakatten dayo
Ika naku chaike nai koto
Niji no mukou de matteru mou hitotsu no mirai e
Wakatten dayo
Wakatten dayo
Sabtu, 25 Januari 2014
Jumat, 24 Januari 2014
Love At First Sight
Love At First Sight
Warning: Alay, gaje, alur cepat, nggak berEYD, don't like don't read tombol back menanti anda
Rate: T
Happy Reading ^o^
Pagi itu sekitar beberapa tahun yang lalu aku masih ingat saat pertama kali aku menginjakan kaki didepan rumah keluarga ku di Kota P, saat itu aku masih berusia 13 tahun dan belum tahu tentang apa artinya cinta bahkan pacaran pun belum pernah padahal teman-temanku sudah punya pacar pada usia segitu. Saat itu aku masih ingat disaat pertama kali aku bertemu D tetangga didepan rumah keluargaku harus kuakui dia cukup keren dan tampan tapi aku yang kuper dan masih polos pada waktu itu masih menganggap D hanya anak cowok yang biasa-biasa saja dan tidak keren ketimbang tokoh komik yang sering kubaca.
Siang itu disaat aku berniat ingin keluar rumah dan jalan-jalan tiba-tiba D menyapaku
"Hai"
"Hai juga"
Itulah pembicaraan singkat yang kulakukan dengan D, dia hanya menyapaku sekedar basa-basi saja, aku juga hanya bersikap sewajarnya berbeda dari anak-anak seusiaku yang akan menjerit histeris karena disapa oleh seorang cowok.
Sudah hampir 2 hari aku di rumah keluargaku dan aku masih ingat pembicaraan terakhir ku dengan D yang sangat singkat itu dalam hati aku bertanya apa tidak apa-apa kalau aku hanya berkata dua patah kata saja dengannya dan setelah berulang kali aku berpikir aku bertekad untuk berkenalan tapi bagaimana caranya itulah yang kupikirkan sekarang. Aku bingung saat itu juga dan disaat kebinguan tengah melandaku ternyata ada solusi untuk semuanya. Kakak sepupuku mengajakku jalan-jalan tapi sebelum itu dia menyuruhku membelikannya garam ditoko depan rumahnya dan aku baru ingat kalau itu rumah D jadi aku punya cara untuk berkenalan
Aku masuk ke toko yang luasnya hanya 3x4 meter dan disana ada D yang tengah menjaga tokonya
"Mau beli apa ?"
"Garam"
"Oh, ini nih garamnya"
"Lho, bukannya garamnya disana ?"
Aku menunjuk kearah kardus yang berisi garam yang berada di rak sebelah kanan toko itu
"Aku tau kok kamu mau nyari garam"
"Hah ? Kamu stalker yah ?"
"Nggak kok! Tadi aku dikasi tahu sama Kak Y kalo kamu mau beli garam"
Pantesan aja dia nyuruh aku beli garam ternyata dia tahu kalau aku mau kenalan sama D. Dasar tukang ngunping, pasti dia dengar ocehan beo ku dikamar tadi.
"Oh, berapa harganya ?"
"2000"
"Mahal amat ?"
"Buat orang asing harus mahal dong hahaha"
"Huh dasar!"
"Hehehe.. Bercanda kok. Oh ya namanya siapa ? Aku kemarin mau nanya nama tapi kamu cuma bales sapaan aku singkat sih"
"Aku K, gimana nggak bales singkat kamu cuma bilang hai aku bingung mau balas apa"\
"Oh. Aku D, salam kenal yah. Yah aku juga bingung masa aku dateng-dateng harus nanya nama kamu kan aneh jadinya"
"Salam kenal juga D, ya udh nih uang 2000 nya aku mau pulang dulu"
"Eh! Tunggu dulu K, ini kembaliannya"
"Nggak usah ambil aja aku juga nggak mau ada kembalian kok"
Tidak terasa sudah seminggu lebih aku berkenalan dengan D dan kami jadi sering bertemu, aku kadang main dirumahnya dan kadang dia main dirumahku itulah kegiatan yang kami lakukan. Tanpa sadar aku tiba-tiba merasa aneh dengan jantungku, terkadang ia berdetak normal saat D tidak didekat ku terkadang ia berdetak cepat saat D didekatku apa aku punya kelainan jantung itulah pikirku.
Beberapa hari ini aku sengaja menghindari D atas saran Kak Y, entah kenapa sarannya terkesan aneh dan sulit dipercaya tapi itu membawa efek yang cukup besar padaku, aku merindukan sosok D teman yang menemaniku disaat aku tidak ada teman di lingkungan sekitar rumah Kak Y, tapi aku senang karena jantungku balik normal bisa bahaya kalau berdetak melebihi batas normal bisa-bisa jantungku meledak. Aku ingin keluar rumah karena sumpek dan ocehan Kak Y tentang D membuat telingaku berdenging jadi aku memutuskan untuk refreshing disaat aku keluar aku nggak sengaja melihat D dan untungnya dia nggak melihatku kalau sampai melihat aku mungkin akan pingsan, tapi kesenanganku berhenti ketika dia menoleh kearah ku dan tersenyum dan itu membuat jantungku makin berdetak kencang
"Hai K"
"Ha-ha-ha-, hai D"
"Lho kamu kenapa ?"
"Aku sakit"
"Pantesan nggak nongol-nongol kupikir kamu udah pulang, oh ya kamu sakit apa sih ?"
"Aku sakit kalau ngeliat kamu tau, makanya aku nggak keluar-keluar"
"Aku kayak kuman aja"
"Emang iya, udah jangan-jangan deket-deket lagi entar jantungku copot, emang kamu mau tanggung jawab ?"
D hanya diam, kurasa dia tahu masalah dari sakitku yang aneh ini, tiba-tiba dia pergi masuk kedalam rumahnya sejak kejadian itu aku tidak pernah melihat D sampai aku pulang ke kota asalku Kota K
Sudah 3 tahun sejak kejadian itu dan sekarang aku sadar kalau kejadian 3 tahun yang lalu itu adalah cinta pada pandangan pertama, dan yang kudengar dari Kak Y kalau D udah punya pacar dan aku ikut senang dan terkadang aku bertanya pada Kak Y tentang apakah D ingat aku dan Kak Y selalu jawab dengan emoticon senyum entah apa maksudnya aku nggak tahu, hanya Kak Y, D dan Tuhan yang tau maksud emoticon senyum itu.
The End
Langganan:
Komentar (Atom)